
Jelajah Studi di Australia
Written by IT (5/10/2026)
Artikel Ditulis Oleh: Sultan Rifat A (Directorate of Public and Alumni Relations)
PPI Australia kembali menginisiasi kampanye pendidikan tinggi Australia yang lebih inklusif melalui kegiatan berhasil menggelar kegiatan webinar berjudul “Jelajah Studi di Australia: Menemukan Peluang di Beragam Kampus” yang digelar di hari Sabtu, 14 Februari 2026 melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu teman-teman mendapatkan gambaran mengenai kesempatan untuk studi di Australia, sekaligus membantu partisipan yang hadir dalam mempersiapkan dirinya untuk berbagai kesempatan studi di Australia yang akan ada di tahun 2026.
Kegiatan ini didukung oleh KBRI Canberra, dan 7 PPIA Cabang yang tersebar di Australia, sekaligus mendatangkan Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, Tito Tri Kadafi selaku Mahasiswa Master di University of Queensland, dan Fajri Zulia Ramdhani selaku Mahasiswa PhD di Western Sydney University sebagai pembicara yang menyampaikan masing-masing materi dengan sangat informatif dan interaktif.
Saat pembukaan acara, Muhammad Hadiyan Ridho sebagai Presiden PPIA 2025/2026 menyampaikan bahwa di tahun 2025, terdapat 30.000 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Australia, walaupun 20.000 mahasiswanya terpusat di daerah New South Wales (NSW) dan Victoria (VIC).
“Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bagi scholarship hunter lainnya untuk bisa mendapatkan kesempatan belajar di Australia di luar wilayah tersebut” ungkapnya.
Selain itu, Ridho juga menyampaikan bahwa setelah kegiatan webinar ini selesai, akan ada lanjutan webinar khusus yang membahas soal beasiswa sekolah di Australia.
Saat forum berlangsung, Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D turut menjelaskan tugasnya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI, dan menjelaskan sejarah dari PPIA sendiri. Tidak lupa, beliau juga memberikan komparasi kondisi pendidikan di Indonesia dan di Australia, dimana perbedaan yang paling mencolok adalah jumlah sekolah dan universitas di Indonesia yang sangat banyak jika dibandingkan dengan sekolah dan universitas yang ada di Australia.
Beliau juga menjelaskan bahwa Australia membangun ekosistem pendidikannya di atas tiga pilar utama. Pertama adalah universitas, yang berfokus pada riset mendalam, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan melalui program sarjana hingga doktoral. Kedua adalah sektor TAFE (Technical and Further Education) dan VET (Vocational Education and Training), yang menitikberatkan pada keterampilan praktis yang siap kerja. Ketiga adalah Private Colleges, yang merupakan lembaga yang menawarkan kursus profesional dan program diploma khusus.
Salah satu poin paling krusial yang mengemuka adalah mengenai durasi studi Undergraduate di Australia yang umumnya memakan waktu 3 hingga 4 tahun.
“Untuk yang menempuh studi S1 di Australia selama 3 tahun, kementerian RI terkait sedang mengusahakan supaya dapat diakui sebagai sarjana, bukan diploma” ungkapnya.
Langkah ini diharapkan dapat mempermudah birokrasi bagi lulusan luar negeri dalam meniti karir di instansi pemerintah maupun swasta di Indonesia.
Selain program reguler, beliau mengungkapkan bahwa Australia menawarkan fleksibilitas melalui program Double Degree dan Joint Degree. Dinamika institusi juga terus berkembang, ditandai dengan informasi terkini mengenai penggabungan (merger) beberapa universitas besar serta kehadiran universitas cabang yang semakin tersebar luas.
Beliau menutup pemaparannya dengan menjelaskan bahwa kuliah di Australia bukan sekadar mengejar gelar, melainkan investasi pengalaman. Lingkungan yang multikultural dan metode belajar berbasis praktis memberikan keunggulan kompetitif bagi mahasiswa. Peluang beasiswa yang melimpah dan kebijakan izin kerja pascastudi menjadi daya tarik utama, meski tantangan adaptasi dan kompetisi global tetap menjadi hal yang perlu dipersiapkan.
Beranjak ke pemateri kedua yaitu Tito Tri Kadafi, beliau memperkenalkan dirinya sebagai awardee dari beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Beliau menjelaskan seluk-beluk dari beasiswa AAS yang memiliki target untuk mencari pemimpin dari generasi selanjutnya yang diharapkan dapat memimpin perubahan di Indonesia. Tidak lupa juga, Tito menjelaskan bahwa beasiswa AAS sangat inklusif sehingga membuka kesempatan yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat dari latar belakang apapun yang ingin mencoba beasiswa tersebut.
Tito menjelaskan bahwa melalui beasiswa tersebut, banyak kesempatan yang sudah didapat olehnya dalam rangka berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
“Dalam semester ini, aku sudah pergi ke 5 negara bagian di Australia dan 6 negara. Universitas dan beasiswa membolehkan karena keduanya mendukung pengembangan melalui kesempatan-kesempatan yang baru didapat saat aku masuk UQ” ungkapnya.
Saat menutup pemaparannya, Tito menyarankan seluruh peserta forum untuk bisa mengakses website CRICOS untuk mendapatkan gambaran mengenai program studi dari universitas-universitas di Australia, sehingga mereka bisa memperluas pilihan universitasnya.
Berpindah ke pemateri ketiga yaitu Fajri Zulia Ramdhani, beliau merupakan awardee Beasiswa Indonesia Bangkit dan Kementerian Agama. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa peluang beasiswa di Indonesia sangat variatif dan mengajak peserta forum untuk tidak terlalu terpaku di satu beasiswa saja. Dalam pemaparannya beliau menjelaskan alasannya untuk melanjutkan studi PhD di Australia sekaligus menjelaskan bagaimana rasanya hidup di Australia selama menempuh studi.
Namun, materi yang paling krusial dari Zulia terletak di tips untuk bisa mendapatkan supervisor. Beliau dengan detail menjelaskan ke peserta forum mulai dari cara mencari supervisor di kampusnya, tata cara mengirimkan email ke calon supervisor, tidak lupa juga menjelaskan hal yang harus dihindari saat menghubungi calon supervisor, serta apa yang perlu dilakukan ketika sudah mendapatkan supervisor.
Sebagai mahasiswa PhD, Zulia juga membagikan perjalanannya saat baru memulai studinya mulai dari orientasi, mengikuti pelatihan wajib, membuat rencana penelitian, serta rutin melaporkan perkembangan risetnya. Sebelum menutup pemaparannya, beliau juga menjelaskan PhD berdasarkan sudut pandangnya yang memandang PhD tidak selalu “sunyi” karena banyak pelajar Indonesia di Australia yang menempuh PhD.
“Banyak Program kampus agar mahasiswa PhD tidak merasa sendirian, jangan lupa untuk bergabung dengan asosiasi yang sesuai dengan bidang kepakaran, ikut komunitas biar bisa ada kegiatan lain diluar riset, dan jangan sungkan untuk datang ke wellbeing kampus untuk konsultasi dalam rangka stress relief” ungkapnya.
Tidak berhenti sampai di kegiatan pemaparan, webinar ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk bisa bertanya ke seluruh pemateri, sekaligus melakukan diskusi dua arah dengan fasilitator di breakout room antara peserta dengan fasilitator yang merupakan anggota PPI dari masing-masing cabang.
Output dari kegiatan tersebut langsung terlihat dengan salah satu peserta langsung memberikan tanggapannya sebagai berikut.
“Sekarang jadi lebih terbayang tentang opsi studi di Australia, dan ingin sekali ada grup untuk bisa berdiskusi lebih lanjut dengan para fasilitator agar bisa lebih mantep lagi saat memilih kampus untuk studi di Australia nanti” ungkap salah satu peserta yang hadir di kegiatan tersebut.