-tkomko5b-1778417607141.jpeg&w=3840&q=75)
PPIA Talks Edisi 1
Written by IT (5/10/2026)
Artikel Ditulis Oleh: Soraya S. A. (Directorate of Public and Alumni Relations)
Melbourne, Sabtu, 9 Mei 2026
Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia kerja dan bisnis mendorong berbagai perubahan dalam cara manusia bekerja, mengambil keputusan, dan membangun usaha. Teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai alat pendukung kini semakin berperan dalam mempercepat proses kerja, meningkatkan efisiensi, serta membuka peluang baru di berbagai sektor industri.
Melihat perkembangan tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia) menyelenggarakan PPIA Talks Edisi Pertama dengan tema:
“Sejauh Mana AI Mengubah Dunia Kerja dan Bisnis”
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Sabtu, 9 Mei 2026 pukul 14.00 WIB dan menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa Indonesia di Australia untuk memahami bagaimana AI memengaruhi masa depan karier, bisnis, dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
PPIA Talks edisi perdana ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang profesional yang berbeda, yaitu:
Riel Tasmaya — CEO Indozone Media
Patrick Effendy — Intellectual Property Producer
Tommy Teja — Co-Founder AICO (AI Community Indonesia)
Selama kurang lebih dua setengah jam, para narasumber membagikan pandangan praktis dan strategis mengenai pemanfaatan AI dalam dunia bisnis, industri kreatif, serta pengembangan karier profesional.
Dari perspektif bisnis, Riel Tasmaya menyoroti bagaimana AI dapat membantu perusahaan bekerja dengan lebih cepat dan efisien. Menurutnya, AI tidak hanya berfungsi sebagai alat pendukung, tetapi juga membantu proses pengambilan keputusan melalui data, insight, dan peningkatan kecepatan kerja.
“Sebagai entrepreneur, saya merasa AI sangat membantu untuk membuat cost structure yang lebih efisien dalam hal biaya dan sumber daya manusia. Dengan hadirnya AI, resource people dapat bekerja secara multitasking. Misalnya, jurnalis yang sebelumnya hanya menulis berita kini juga dapat membuat konten media sosial beserta desainnya secara langsung.”
Sementara itu, Patrick Effendy membahas perkembangan AI dari sisi industri kreatif dan intellectual property. Ia menekankan bahwa kehadiran AI membawa peluang sekaligus tantangan baru, terutama terkait kreativitas, kepemilikan ide, originalitas karya, dan perlindungan hak cipta.
“Dalam hal hak cipta, secara legal AI dilihat hanya sebagai tools. Namun, kita juga perlu mempertimbangkan sisi etikanya. AI bisa mengimitasi karya orang lain, mulai dari brush stroke, pilihan warna, hingga bayangan. Jika kita tidak memiliki standar etika, maka kita juga dapat menghadapi permasalahan hak cipta.”
Dari sisi komunitas dan pengembangan keterampilan, Tommy Teja menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi di era AI. Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda tidak cukup hanya memahami AI sebagai tren, tetapi juga perlu menggunakannya secara strategis untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan daya saing.
“Semakin besar bisnis kita, semakin kompleks brief yang kita hadapi. Maka bukan lagi soal bekerja lebih keras, tetapi bekerja lebih cerdas dan menggunakan sistem agar kita bisa melakukan scaling up.”
Dalam sambutannya, Presiden PPIA 2026, Muhammad Hadiyan Ridho, menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia perlu memahami arah perubahan dunia kerja di tengah perkembangan AI.
“Mahasiswa Indonesia perlu mengetahui perspektif dunia kerja saat ini dan bagaimana dunia kerja ke depannya dengan adanya AI.”
Diskusi ini juga menyoroti pertanyaan penting bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri: apakah gelar dan pengalaman internasional masih cukup untuk bersaing di era AI?
Melalui pemaparan para narasumber, PPIA Talks menegaskan bahwa lulusan luar negeri tetap memiliki nilai tambah, terutama dalam kemampuan berpikir kritis, pengalaman lintas budaya, komunikasi, dan adaptasi. Namun, nilai tersebut perlu dilengkapi dengan kemampuan memahami serta memanfaatkan teknologi AI secara relevan.
Antusiasme peserta terlihat melalui sesi tanya jawab yang membahas berbagai isu, mulai dari peluang karier di era AI, perubahan kebutuhan industri, pemanfaatan AI dalam bisnis, hingga kekhawatiran mengenai pekerjaan yang berpotensi tergantikan oleh teknologi.
Hal ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan mahasiswa, melainkan telah menjadi bagian penting dalam persiapan memasuki dunia profesional.
Sebagai edisi perdana, PPIA Talks menjadi langkah awal PPI Australia dalam menghadirkan ruang diskusi yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Indonesia di Australia diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam perubahan teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran aktif dalam membangun masa depan karier, bisnis, dan industri yang lebih adaptif di era AI.