|
Denhaag - Semangat kebersamaan dan kecintaan pada bangsa menempatkan para intelektual Indonesia dalam semangat kolaboratif berfikir bersama untuk Indonesia . Kaum intelektual muda Indonesia harus menjadi pendorong dan pihak penentu arah bangsa ke depan. Tugas ini harus mau kembali diambil oleh para intelektual Indonesia untuk mempersiapkan misi dan strategi bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan dunia pada tahun 2020. Atas dasar inilah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda dan Aliansi PPI Luar Negeri atau Overseas Indonesian Students Association Alliance (OISAA) menggelar Simposium Internasional (SI-2009).
Simposium Internasional dengan tema “Visi dan Misi Intelektual Indonesia di Luar Negeri: Strategi Pembangunan Indonesia Menuju 2020” akan diselenggarakan di Gedung Museon, Denhaag, Belanda, 3-5 Juli 2009. Kegiatan ini didukung penuh oleh Depniknas, Kantor Menristek, Kantor Menpora dan Deplu serta disponsori berbagai instansi swasta di Indonesia .
Simposium Internasional ini bertujuan untuk membahas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia; membangun jejaring dan organisasi Intelektual Indonesia di seluruh dunia; memberikan pesan moral bahwa para Intelektual Indonesia di luar negeri memiliki perhatian besar terhadap kondisi bangsa Indonesia; serta membahas permasalahan pelajar Indonesia dan perkembangan organisasi pelajar Indonesia di luar negeri. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini, pertama memberikan rekomendasi bagi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia pada sektor-sektor ekonomi; sosial-kemasyarakat an; hukum, politik dan pemerintahan; sains dan teknologi; kebumian, energi dan lingkungan; serta kepemudaan dan kepelajaran. Kedua, terbentuknya organisasi yang menghubungkan seluruh Intelektual muda Indonesia yang berada di luar negeri untuk aktif bersama-sama memberikan kontribusi untuk bangsa Indonesia . Ketiga, terbentuknya database Intelektual muda Indonesia yang berada di seluruh dunia untuk kemudian dapat bekerja sama dengan pemerinta
Ketua Panitia Ahmad Adhitya mengatakan ketika ide ini digagas oleh para pemuda Indonesia di luar negeri, tak ada yang lain yang dimiliki kecuali mimpi dan harapan. “Tak ada uang yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Tak ada jaringan untuk menghubungi para ilmuwan, pemerintah dan jaringan kepemudaan. Yang ada hanyalah semangat bahwa hal yang dikerjakan ini diharapkan dapat memberikan sebuah sumbangsih kecil untuk masa depan bangsa. Seolah akan menaklukkan puncak Jayawijaya yang tinggi dan dingin, maka perjalanan panjang bernama Simposium Internasional ini pun dimulai. Perlahan ide ini disosialisasikan ke beberapa pemuda Indonesia di belahan dunia yang lain. Seperti api kecil yang terus menerus ditumpahi minyak, semangat itu kian berkobar keseluruh penjuru dunia,” papar Adhitya.
Menurut Sekjen PPI Belanda Yohanes Widodo, proses persiapan acara ini sangat bermakna karena bisa melibatkan sekitar 32 PPI dari seluruh dunia. Dengan antusias mereka membahas persiapan lewat rapat online seminggu sekali. “Kami, para pengurus PPI yang belum pernah bertemu dan terpisah oleh jarak dan waktu, bisa bersatu. Ini sesuatu yang luar biasa. Rasa banggalah yang kemudian menyadarkan kita semua bahwa di mana pun kita berada, kita bisa dan harus selalu berkarya untuk bangsa,” ujar Yohanes.
Dubes Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Jusuf Effendi Habibie menyambut baik gagasan ini. Sebagaimana telah dilakukan di dua tahun terakhir, KBRI Den Haag selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menumbuh kembangkan antusiasme dan semangat pelajar Indonesia di luar negeri untuk terus berkarya demi bangsa dan Negara. Menurut Duta Besar, para pelajar dan pemuda Indonesia di luar negeri memiliki perhatian yang sangat besar terhadap bangsanya. “Semangat itulah yang mendorong mereka untuk bersama-sama berjuang dengan para pemuda dan pelajar Indonesia di dalam negeri untuk saling berkolaborasi, bersatu untuk sebuah masa depan Indonesia yang lebih baik,” ujar Duta Besar.
Simposium Internasional ini akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui video conference atau audio call.. Pada hari pertama akan ada bincang-bincang dengan Sekretaris Menpora, Anis Baswedan PhD, Cut Maghfira, dan Dr. Nasir Tamara. Lalu ada ceramah umum “Reposisi Indonesia di Percaturan Internasional oleh Dr. Dino Pati Djalal, dilanjutkan Diskusi Panel “Pemanfaatan Sumber Daya Alam Indonesia dalam Konteks Kerja Sama dengan Pihak Asing” dengan pembicara HM Rusli Zainal, Agusman Effendi, Henricus Herwin. Lalu ada panel kedua dengan tema “Regenerasi Ilmuwan Muda dan Brain Gain Pemuda Indonesia ”. Pada hari kedua akan menampilkan presentasi dan diskusi ilmiah di enam komisi yang dikoordinir oleh PPI UK, PPI Jerman, PPI Singapura, PPI Yaman, PPI Belanda, dan PPI Australia. Agenda hari ketiga adalah Pembentukan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4).
****
|