Berkaca pada kekayaan maritim Indonesia yang mengapit lebih dari 17.500 pulau, Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) sebagai perhimpunan pelajar Indonesia terbesar di dunia kembali mengadakan Indonesia Global Scholars’ Forum atau IGSF 2018 yang mengangkat tema Global Maritime Fulcrum: Assessing Indonesia Policies, Strategies and Position. Kegiatan yang diadakan pada tanggal 23-24 Februari di Perth, Western Australia ini merumuskan sembilan poin rekomendasi mengenai kemaritiman Republik Indonesia.

Pakar-pakar di bidang kemaritiman turut hadir untuk membagikan pandangan dan pengalaman mereka, diantaranya adalah Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Hasjim Djalal dan Dr. Dino Patti Djalal, Natalie Sambhi M.A. dari Perth USAsia, Letkol Agus Pramono dari TNI AU, Pakar Ekonomi Murdoch University Prof. Malcolm Tull, Pakar Maritim Universitas Hassanudin Prof. Jamaludin Jompa dan Pakar Ekowisata Universitas Gadjah Mada Prof. Baiquni. Pemaparan oleh para ahli memancing diskusi yang menarik sepanjang sesi dari seluruh peserta forum.

Tema kemaritiman diangkat karena mahasiswa Indonesia di Australia menganggap bahwa kedaulatan maritim Indonesia merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan bangsa untuk menjadi negara yang besar dan berdaulat. Menurut ketua PPIA, Brena Dwita Budiart, kegiatan ini merupakan bukti kontribusi dan rasa cinta tanah air 20,000 pelajar Indonesia di Australia. Acara ini diharapkan dapat membuka pikiran mahasiswa akan pentingnya kemaritiman sebagai tonggak kedaulatan Indonesia. “Tidak hanya bersifat seremonial saja, IGSF merumuskan hasil yang lebih nyata. Kami mempersembahkan SEGARA yang berisi sembilan poin rekomendasi untuk Bapak Joko Widodo” ucap Brena yang tengah menyelesaikan studi Master di Australian National University. Dokumen SEGARA ini diserahkan langsung kepada Staf Khusus Kepresidenan, Diaz Hendropriyono, di KJRI Perth, Western Australia.

Diaz Hendropriyono, selaku Staf Khusus Kepresidenan yang juga hadir untuk menerima sembilan poin rekomendasi dari pelajar Indonesia di Australia mengatakan bahwa pembangunan Poros Maritim Global harus juga dimulai dari sisi domestik dengan tidak melupakan fokus internasional. Dengan memerhatikan pada pembangunan infrastruktur yang memadai, maka cita-cita besar bangsa Indonesia sebagai negara maritim akan tercapai dengan lebih mudah.

Terdapat sebelas makalah ilmiah terpilih yang dipresentasikan dalam konferensi ini. “Ada peserta yang berasal dari Indonesia, Australia hingga dari Inggris dengan beragam jenis topik penelitian mulai dari infrastuktur, geopolitik hingga coastal area. Kami melakukan penyeleksian yang ketat agar makalah yang diterima benar-benar memiliki ide yang orisinil dan diharapkan memberikan sumbangsih pemikiran kepada Indonesia”, ujar Hakam Junus, Project Coordinator IGSF 2018. (publicrelations@ppi-australia.org)