Rangkuman PPIA Resume Dialog Kepahlawanan 14 dan 21 November

KBRI apresiasi Dialog Kepahlawanan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia)

PPI Australia selenggarakan Dialog Kepahlawanan

Peringatan Hari Pahlawan 10 November sejatinya menggugah dan memantik semangat kepahlawanan dalam diri kaum muda. Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia) tergerak untuk mengadakan dialog untuk membangun kembali jiwa patriotisme anak bangsa, khususnya para pemuda dan pelajar yang berdomisili di Australia.

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia) telah mengadakan dialog daring dengan tema “Kepahlawanan Dalam Perspektif Kaum Muda”. Pakar sejarah dan para tokoh senior yang juga anak/cucu dari pahlawan nasional hadir dalam dialog ini. Mereka adalah Agustanzil Sjahroezah (putera dari Djohan Sjahroezah, yang juga cucu H Agus Salim (Pahlawan Nasional)), , Meutia Hatta (puteri dari Bung Hatta, Pahlawan Proklamator, Rushdy Hoesein (sejarawan UI), dan Anhar Gonggong (sejarawan UI). Para tokoh ini mampu memberikan wawasan kebangsaan dan sejarah agar lebih memahami makna kepahlawanan itu sendiri. Selain itu, dialog dimeriahkan dengan hadirnya para kaum muda dan kalangan selebritis muda tanah air seperti Bung Tjokro yang merupakan putra dari Joyo Tjokrosantoso, anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan tokoh pergerakan di era kemerdekaan dari barisan pelopor. Selain itu, akan ada juga para selebriti milenial Indonesia lainnya yakni, Ramzi, Ola Najla, Cut Mini Theo, Putri Ayudya, dan Ayushita akan berbagi pandangan bagaimana memaknai kepahlawanan di masa kini.

Dialog kolaborasi para tokoh, sejarawan, dan artis milenial, yang sarat makna dan penting ini diselenggarakan dalam dua sesi webinar yang berbeda. Sesi pertama dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 November sedangkan sesi kedua pada 21 November 2020.

Cuplikan Dialog Kepahlawanan 14 November 2020:

Rushdy Hoesein , sejarawan mengungkapkan bahwa peringatan Hari Pahlawan 10 November erat kaitannya dengan peristiwa pertempuran 10 November di Surabaya yang kemudian ditetapkan Pemerintah Indonesia sebagai Hari Pahlawan. Untuk menggugah semangat dalam diskusi, menutup paparannya, tokoh yang sering dipanggil sebagai Bung Dudi, memantik pertanyaan untuk semua peserta. “Untuk apa kita merdeka?”. Sebuah pertanyaan untuk direnungkan masing-masing peserta.

Agustanzil Sjahroezah, yang akrab dipanggil dengan julukan Bung Ibong, mengungkapkan bahwa kemerdekaan kita dulunya direbut oleh bangsa kita bukan suatu pemberian. Kemerdekaan itu didapat dengan susah payah. Hanya bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya lah yang dapat menjadi bangsa yang besar. Cucu Pahlawan Nasional KH Agus Salim tersebut mengingatkan kaum muda bahwa menghargai pengorbanan para pejuang bangsa merupakan suatu keharusan. Kita perlu punya nilai kejuangan, harus aktif berbuat, tidak menunggu. Nilai kepahlawanan yaitu sifat ikhlas, jujur, berani, cinta tanah air, teguh, siap berkorban bagi bangsa, perlu dimiliki oleh kaum muda. Masa depan bangsa ini ada ditangan kaum muda. “PR kita saat ini adalah menjaga persatuan dan kesatuan” pungkas Bung Ibong.

Bung Ibong juga mengingatkan para kaum muda, sebaiknya jangan hanya belajar saja, tapi juga bersosialisasi dan berorganisasi untuk belajar bagaimana kita belajar untuk berhubungan dengan manusia-manusia lainnya. Integritas moral dan karakter serta wawasan yang jauh kedepan dari zamannya sangat penting bagi para pemuda saat ini.

Putri Ayudya mengungkapkan bahwa adanya hari pahlawan merupakan tanda penghargaan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia dahulu. Hari pahlawan adalah hari yang penting untuk kita berfikir apa saja kontribusi yang bisa kita lakukan demi memajukan bangsa.

Bung Tjokro mengatakan bahwa banyak generasi muda yang memikirkan kepentingannya sendiri seperti ingin menjadi terkenal ataupun selebgram. Jangan sampai hari kepahlawanan kita hanya sebuah ceremonial. Kita harus mempelajari dan membaca sejarah kepahlawanan kita.

Cuplikan Dialog Kepahlawanan 21 November 2020:

Meutia Hatta, anak dari Pahlawan Proklamator Bung Hatta, mengungkapkan dalam presentasinya bahwa mereka yang pada zamannya masing-masing mampu menegaskan sikapnya mengabdi pada Ibu Pertiwi yang disebut sebagai pahlawan.  Jiwa nasionalisme dan patriotisme menjadi dasar dari kepahlawanan. Putri Bung Hatta ini juga memberikan contoh-contoh pahlawan pada masa kini. Para pemikir dan kaum intelektual yang mengharumkan nama bangsa juga merupakan pahlawan. Para atlet, seniman terkemuka dengan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Lembaga Swadaya Masyarakat yang memberdayakan masyarakat di daerah tertinggal.

Meutia Hatta mengharapkan kaum muda agar memiliki karakter atau watak sebagai pemuda masa kini dalam kaitannya dengan semangat kepahlawanan yaitu rasa kebersamaan yang membangun persatuan, peka dalam mengamati masalah dan tergugah mencari solusinya, serta toleransi untuk saling menghargai.

Tidak lupa Meutia Hatta mengingatkan kaum muda tentang pentingnya mempelajari dan memahami Undang-Undang Dasar Tahun 1945.

Anhar Gonggong mengungkapkan kecintaannya pada Indonesia. “Saya merasa tidak pernah berhenti berhutang untuk republik ini. Saya menjadi orang yang berhutang pada bangsa dan negeri ini untuk apa yang sudah negara berikan bagi saya” ungkapnya. Tak lupa sejarawan tesebut mengajak kaum muda untuk membaca dan belajar mengenai sejarah bangsa Indonesia. Pemahaman akan kondisi geografis Indonesia dan antropologi mengenai keragaman suku akan membuat pengenalan yang lebih lengkap tentang ke-Indonesia-an.

Selaras dengan semangat nasionalisme dan kepahlawanan, James K. Wieguna, Ketua Umum PPI Australia, mengungkapkan bahwa dirinya pernah ditawarkan untuk pindah kewarganegaraan menjadi warga Singapura. Namun akhirnya menolak dengan tegas karena kebanggaan sebagai orang Indonesia.

Kedutaan Besar RI apresiasi inisiatif PPI Australia

Kedutaan Besar RI untuk Australia mengapresiasi terselenggaranya Dialog Kepahlawanan Dalam Persepektif Kaum Muda oleh PPI Australia. Inisiatif ini merefleksikan bentuk kecintaan para pelajar Indonesia di Australia terhadap bangsa dan negara. “Pertama saya menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia atas inisiatif menyelenggarakan webinar dengan tema kepahlawanan dalam perspektif kaum muda” ungkap Duta Besar RI untuk Australia, H.E. Y. Kristarto Legowo dalam sambutannya.

Untuk selengkapnya, rekaman dialog tersebut tersedia pada link sebagai berikut: Dialog Kepahlawanan 14 November, Dialog Kepahlawanan 21 November

Desember 2020

Departement Hubungan Antar Lembaga dan Advokasi

DIKSI (Diskusi Kekinian Seputar Indonesia) #2 PPI Australia

Register now via https://s.id/ppiadiksi2

🟡 Penasaran bagaimana vaksin COVID-19 yang dibeli oleh pemerintah Indonesia?

🟡 Ingin tau siapa saja yang jadi prioritas distribusi vaksin?

🟡 Bagaimana dengan orang tua dan pendirita immunocompromised disease?

🟡 Ingin tahu jawabannya?

Yuk ikut dalam webminar DIKSI seri ke-2!

Kita akan membahas “Tantangan dan Akses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia”

🗣️ Pembicara:

  • Dr. Pandu Riono MPH, PhD (Pengajar Senior Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia)
  • Prof. dr. Herawati Sudoyo MSc, PhD (Deputy for Fundamental Research Eijkman Institute)

🗣️ Pembahas:

  • dr. Sri Umasugi (Master of Public Health University of Melbourne/Bidang Akademik PPI Australia)

🗣️ Moderator:

  • Nina Gunawan Bachelor of Science (Honours) (University of Western Australia/President PPIA Western Australia

⏰ Kapan?

📅 1 Desember 2020

🕒 20:00 – 21:40 AEST

🕒 16:00 – 17:40 WIB

Diksi diadakan melalui zoom webinar

🇲🇨 Webinar dalam Bahasa Indonesia

Isi formulir ini ya untuk mendapatkan e-certificate

🟡 Acara diselenggarakan atas kerja sama: PPI AUstralia dan PPIA Western Australia

🟡 Acara didukung oleh: Rumah millenials, ISMKI, InspiraTalk.ID, Scholars, Indonesia Bergerak, dan Webminar Pendidikan

📇 Narahubung: Ayi (+61 403 504 868)

PPI Dunia X PPI Australia Webinar – SETARA (Pendidikan dan Peluang Kerja Inklusif)

Register at https://s.id/daftarsetara2020

Kami percaya bahwa setiap orang berhak memperoleh kesempatan atas pendidikan dan pekerjaan, bahkan jika mereka memiliki keterbatasan fisik dan mental, atau penyandang disabilitas. Sebagai bentuk dukungan terhadap kesetaraan bagi penyandang disabilitas, khususnya dalam konteks kesempatan mengakses pendidikan tinggi dan pekerjaan pasca lulus sekolah, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia bermaksud mengadakan sebuah webinar untuk pelajar SMA penyandang disabilitas di Indonesia.

Acara ini bertujuan untuk memberikan informasi, inspirasi, dan mempersiapkan rencana pasca kelulusan bagi para pelajar dengan disabilitas. Acara ini merupakanpersembahan kecil kami selaku pelajar Indonesia di Australia kepada tanah air Indonesia. Kami berharap, melalui webinar ini, akan ada lebih banyak siswa siswi SMA penyandang disabilitas yang lebih percaya diri dan termotivasi untuk melanjutkan pendidikan maupun bekerja.

Webinar ini akan berlangsung selama kurang lebih 2 jam, dengan mengundang pembicara dari unsur pemerintah (Kemdikbud) serta penyandang disabilitas yang sukses di bidang entrepreneur dan akademik. Acara ini terbuka bagi siapa saja yang tertarik dengan isu disabilitas di Indonesia, khususnya bagi kamu, sobat disabilitas yang butuh inspirasi untuk memilih bekerja atau lanjut kuliah pasca lulus sekolah.

– PPI Australia, Desember 2020

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi

Clarita Yolanda +61 420 648 936

atau Email community@ppi-australia.org

DIALOG PPIA SERI 2 – KEPAHLAWANAN DALAM PERSPEKTIF KAUM MUDA

Register now from here!

KEPAHLAWANAN DALAM PERSPEKTIF KAUM MUDA

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November, maka Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia) akan mengadakan diskusi online bertema “Kepahlawanan Dari Perspektif Kaum Muda” pada Sabtu, 14 November dan 21 November 2020, pukul 15.30 WIB.

PPI Australia akan menghadirkan para tokoh senior dan sejarawan untuk berbagi pandangan maupun pengalaman untuk memotivasi semangat kepahlawanan bagi para kaum muda dan pelajar. Tokoh-tokoh senior dan sejarawan Indonesia bersedia hadir untuk berbagi pada kaum muda. Mereka adalah Agustanzil Sjahroezah (putera dari Djohan Sjahroezah, yang juga cucu H Agus Salim (Pahlawan Nasional)), Rushdy Hoesein (sejarawan UI), Meutia Hatta (puteri dari Bung Hatta (Pahlawan Proklamator), dan Anhar Gonggong (sejarawan UI), yang dapat memberikan kaum muda Indonesia wawasan kebangsaan dan sejarah agar lebih mengetahui arti dari hari Pahlawan Indonesia dalam acara diskusi online nantinya.

Diskusi online Kepahlawanan ini akan dimeriahkan oleh hadirnya para kaum muda dan kalangan selebritis muda tanah air seperti Bung Tjokro yang merupakan putra dari Joyo Tjokrosantoso, anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan tokoh pergerakan di era kemerdekaan dari barisan pelopor. Selain itu, akan ada juga para selebriti milenial Indonesia lainnya yakni, Ramzi, Ola Najla, Cut Mini Theo, Putri Ayudya, Agatha Chelsea, dan Ayushita akan berbagi pandangan bagaimana memaknai kepahlawanan di masa kini. Mereka juga bercerita bagaimana mereka dalam ragam profesi dan keahliannya, dapat mentransformasikan nilai kepahlawanan dalam dirinya untuk tetap berkontribusi membangun negeri dengan cara masing-masing. Kehadiran selebritis ini diharapkan mampu untuk memotivasi para pemuda Indonesia lainnya untuk selalu berkontribusi untuk Indonesia.

Sebagai informasi, PPI Australia telah berdiri sejak tanggal 13 Maret 1981 untuk menaungi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia. Menurut data KBRI Canberra, saat ini jumlah pelajar Indonesia yang menempuh studi di Australia telah mencapai lebih dari 20 ribu orang, yang terbanyak di dunia. PPI Australia sebagai organisasi non-profit yang bertujuan untuk melayani, mempersatukan pelajar Indonesia di seluruh wilayah Australia, dan mendorong kontribusi bagi bangsa Indonesia.

-PPI Australia, November 2020

More information and Contact person

Diza alia +61401001127

Nisrina +62 888-0179-7545



DIALOG PPIA – KEPAHLAWANAN DALAM PERSPEKTIF KAUM MUDA

Register now from here!

KEPAHLAWANAN DALAM PERSPEKTIF KAUM MUDA

Bersamaan dengan momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November, maka Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPI Australia) akan mengadakan diskusi online bertema “Kepahlawanan Dari Perspektif Kaum Muda” pada Sabtu, 14 November dan 21 November 2020, pukul 15.30 WIB.

PPI Australia akan menghadirkan para tokoh senior dan sejarawan untuk berbagi pandangan maupun pengalaman untuk memotivasi semangat kepahlawanan bagi para kaum muda dan pelajar. Tokoh-tokoh senior dan sejarawan Indonesia bersedia hadir untuk berbagi pada kaum muda. Mereka adalah Agustanzil Sjahroezah (putera dari Djohan Sjahroezah, yang juga cucu H Agus Salim (Pahlawan Nasional)), Rushdy Hoesein (sejarawan UI), Meutia Hatta (puteri dari Bung Hatta (Pahlawan Proklamator), dan Anhar Gonggong (sejarawan UI), yang dapat memberikan kaum muda Indonesia wawasan kebangsaan dan sejarah agar lebih mengetahui arti dari hari Pahlawan Indonesia dalam acara diskusi online nantinya.

Diskusi online Kepahlawanan ini akan dimeriahkan oleh hadirnya para kaum muda dan kalangan selebritis muda tanah air seperti Bung Tjokro yang merupakan putra dari Joyo Tjokrosantoso, anggota Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan tokoh pergerakan di era kemerdekaan dari barisan pelopor. Selain itu, akan ada juga para selebriti milenial Indonesia lainnya yakni, Ramzi, Ola Najla, Cut Mini Theo, Putri Ayudya, Agatha Chelsea, dan Ayushita akan berbagi pandangan bagaimana memaknai kepahlawanan di masa kini. Mereka juga bercerita bagaimana mereka dalam ragam profesi dan keahliannya, dapat mentransformasikan nilai kepahlawanan dalam dirinya untuk tetap berkontribusi membangun negeri dengan cara masing-masing. Kehadiran selebritis ini diharapkan mampu untuk memotivasi para pemuda Indonesia lainnya untuk selalu berkontribusi untuk Indonesia.

Sebagai informasi, PPI Australia telah berdiri sejak tanggal 13 Maret 1981 untuk menaungi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Australia. Menurut data KBRI Canberra, saat ini jumlah pelajar Indonesia yang menempuh studi di Australia telah mencapai lebih dari 20 ribu orang, yang terbanyak di dunia. PPI Australia sebagai organisasi non-profit yang bertujuan untuk melayani, mempersatukan pelajar Indonesia di seluruh wilayah Australia, dan mendorong kontribusi bagi bangsa Indonesia.

-PPI Australia, November 2020

More information and Contact person

Diza alia +61401001127

Nisrina +62 888-0179-7545

Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2019

As the year of service of PPIA 2018-2019 committee is coming to an end, PPIA held the Indonesian Students International Conference or KIPI. It was conducted successfully on July 3 – 6, 2019 in Monash University Caulfield as the main venue. This program actually was not only about the conference itself but also the PPIA youth entrepreneurship gala dinner, Australia Alumni Networking Chamber (AANC), and the PPIA Congress. At the end of the program, there were internal bonding activities to strengthen the relation amidst committee as their work will end soon.

After officially opened by Kristiarto Legowo, the Ambassador of Indonesia in Australia, the main discussion of the day was conducted on the first day. It talked about the demographic bonus in Indonesia, the challenges and benefits. The main panelists were Dr. Iwu Dwisetiyani Utomo and Prof. Peter McDonalds. After having a break and lunch, the conference was continued to another discussion. It talked about the social and cultural aspects of Indonesia, and the panelists were Dr. Nasya Bahfen and Budiman Sudjatmiko.

On the second day, July 4, 2019, the discussion moved to technological matters which focused on economy creative and technological innovation and information. Rudi Purba, Iwan Sunito, Tatum Ona Kembara, and Helen Brown were the panelists. In the second session of the discussion, Blibli, a leading market place company, delegations appeared to give their presentation about eCommerce in Indonesia and what career opportunities offered by Blibli at the moment. On the same day, the Gala Dinner was held in the Republic of Indonesia General Consulate office. This session had a discussion about industry 4.0 age and gave opportunities for the guests to broaden their professional network during the dinner.

The Congress, where the committees reported their work, was held on the third day, July 5, 2019. On the same day, in dinner time, there was AANC in the Republic of Indonesia General Consulate office. And finally, the program was closed on the fifth day by having internal bonding.